Sunday, 25 March 2018

Ini Keuntungan Indonesia Jika Menjadi Tuan Rumah MotoGP
JawaPos.com - Pemerintah masih memiliki keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu tuan rumah kompetisi MotoGP. Meski sempat gagal, pemerintah tetap berupaya agar Dorna mau mencantumkan Indonesia ke dalam kalender balap.

Keputusan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak. Indonesia diharapkan bisa menggelar MotoGP seperti musim 1997 lalu karena ada banyak keuntungan yang akan diterima oleh pihak tuan rumah.

Dari segi pariwisata, nama Indonesia bakal semakin terdongkrak. Pecinta MotoGP dari berbagai negara bisa tergoda untuk menyaksikan langsung gelaran MotoGP di Indonesia.

"Itulah mengapa pada 2018 ini Spanyol dan Italia sampai empat kali dan dua kali jadi tuan rumah. Negara tetangga kita pun, Malaysia, Thailand, dan Australia masuk dalam kalender resmi MotoGP 2018. Artinya ada keuntungan besar jika bisa menjadi tuan rumah," ucap mantan pembalap Indonesia, Tinton Suprapto.



Selain sektor pariwisata, keuntungan juga bisa datang dari segi bisnis dan ekonomi. Sisi bisnis MotoGP dapat terlihat dari persaingan tiga pabrikan motor yang pangsa pasarnya besar di Indonesia. Pandangan ini disampaikan langsung oleh Ananda Mikola, eks pembalap Indonesia yang kini terlibat dalam pengelolaan Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat.

"Beda dengan F1 yang hanya disukai lapisan masyarakat tertentu. Kalau di MotoGP, motor para pembalap MotoGP terpasang slogan berbahasa Indonesia: Satu Hati dari tim Repsol Honda, Nyalakan Nyali dari Suzuki Ecstar, dan Semakin di Depan milik Movistar Yamaha,” kata pembalap yang pernah tampil di ajang Formula 3000, Asian Formula 3, hingga A1 Grand Prix itu.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau Sirkuit Internasional Sentul pada 6 Maret lalu. Saat itu Presiden mendengarkan rencana dari Tinton Suprapto dan Ananda Mikola untuk mengaktifkan kembali Sirkuit Sentul yang dipersiapkan menjadi tuan rumah ajang MotoGP. Presiden Jokowi menyatakan bahwa pemerintah mendukung peluang Indonesia menjadi tuan rumah MotoGP pada 2020.
Yamaha Mulai Goda Zarco
KOMPAS.com – Usai keputusan Yamaha cerai dengan Tech3, nasib pebalapnya yang lagi naik daun, Johann Zarco, belum jelas. Tech3 yang bergabung dengan KTM musim depan sudah mulai menggoda Zarco, sementara Yamaha berusaha mempertahankannya dengan iming-iming mendapat jatah YZR-M1 versi pabrikan. 



Sebelumnya dikabarkan Tech3 memilih pisah karena merasa kurang dukungan Yamaha. Bos Yamaha MotoGP Lin Jarvis mengklarifikasi dukungan buat Tech3 sudah sesuai kontrak, tidak ada kewajiban yang dikatakan di kontrak itu bahwa Yamaha harus menyuplai motor pabrikan.

“Benar bahwa kami tidak memberikan Zarco motor pabrikan tapi kami hanya menghormati kontrak kami,” kata Jarvis dalam sesi wawancara bersama GP One. Soal masa depan Zarco, Jarvis mengatakan sedang dalam pembicaraan kontrak baru bersama tim baru. 

“Memungkinkan Zarco mendapat motor pabrikan tahun depan. Seperti musim ini, itu sangat sulit, saya tidak berpikir Johann kekurangan dukungan Yamaha saat ini. Dia menggunakan motor berbeda tetapi sangat kompetitif,” kata Jarvis.

Kesempatan Zarco mendapat motor pabrikan sangat besar, tetapi bukan berarti dia bisa menggantikan posisi Valentino Rossi di tim pabrikan Yamaha. Rosii dan Maverick Vinales baru saja menandatangani kontrak bersama Yamaha untuk musim 2019 dan 2020. 

“Zarco sangat cepat, kami melihatnya tahun lalu dan musim dingin ini, tetapi kami tidak pernah serius mempertimbangkan dia. Valentino adalah Valentino, dia pebalap terhebat dalam sejarah Yamaha dan tidak mudah digantikan. Jika dia mau melanjutkan itu karena dia tahu dia tetap kompetitif dan kami tidak ragu mempertahankannya,” kata Jarvis.

Monday, 19 March 2018

Bikin Lemes, Deretan Umbrella Girl Cantik dan Seksi Pemanis Balap Asia Thailand

MOTOR Plus-online.com - Balap motor masih menjadi gelaran yang disukai. Bukan hanya profil pembalap dan tim, tapi gadis manis pembawa payung alias umbrella girl.

Beberapa waktu lalu, balapan seri pertama ARRC (Asia Road Racing Championship) 2018 telah diselenggarakan di Thailand. Tepatnya di Chang International Circuit, Buriram pada tanggal 3-4 Maret 2018.

Menariknya, tak hanya pembalap asal thailand saja, ARRC ini juga diikuti para pembalap asal Indonesia lo. Nah, karena ajang ARRC 2018 sudah berlalu, enggak ada salahnya kita bahas hal menarik lainnya nih.

Ngobrolin balap kurang lengkap rasanya kalau tidak membahas tentang umbrella girl-nya. Secara, sosok umbrella girl itu ibarat gula-gula pemanis yang menemani jalannya sebuah ajang balap hehe.

Bahkan umbrella girl yang ada di ARRC 2018 seri pertama pun sempat diabadikan dalam foto. Dijamin dah, kamu pasti bakalan melongo kalau melihatnya. Penasaran dengan paras cantik mereka?

Berikut ini ada foto-fotonya spesial buat kamu!






Sunday, 18 March 2018

Pemasangan Halo di Jet Darat F1 Bisa Tambah Keuntungan, Caranya?
Liputan6.com - Mobil balap di ajang Formula 1 (F1) musim ini dipastikan bakal menggunakan pelindung kokpit. Komponen yang disebut Halo ini, dipercaya bisa meningkatkan keselamatan para pembalap jet darat.

Namun, selain untuk keselamatan, Halo ternyata bisa memberikan keuntungan lain untuk tim. Pasalnya, saat ini para bos F1 tengah mengevaluasi penambahan layar digital di Halo.

Melansir Motorsport.com, ditulis Minggu (14/1/2018), pemasangan layar digital seperti LED tersebut bisa digunakan untuk menampilkan informasi saham, serta harga saham.

Dengan begitu, tim akan mendapatkan keuntungan komersial tambahan.

"Formula 1 sedang menggarap sesuatu yang berkaitan dengan digital pada Halo. Jadi, saya pikir kita akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya," jelas Direktur Eksekutif McLaren, Zak Brown.

"Mungkin bentuknya seperti informasi berjalan yang Anda lihat di bursa saham atau pesan berjalan, dan semacamnya," tambahnya.


Produsen Sandal Jepit Sponsori Halo Tim McLaren


Liputan6.com - Musim ini menjadi pertama kalinya jet darat Formula 1 (FI), menggunakan pelindung kokpit, Halo. Komponen ini, dipercaya mampu meningkatkan keselamatan para pembalap ajang balap mobil paling bergengsi di dunia tersebut.

Melansir Motorsport.com, ditulis Minggu (18/3/2018), untuk seri pembuka di GP Australia, Halo milik McLaren bakal disponsori merek sandal jepit, Gandys.
Melalui kerja sama ini, Halo di mobil pabrikan asal Inggris ini akan mendapatkan loga Gandys di Melbourne, pekan depan.

Kerja sama ini hadir setelah banyaknya ejekan yang membandingkan Halo dengan bentuk sandal jepit. Bahkan, merek gaya hidup yang didirikan dua bersaudara Rob dan Paul Forkan ini juga akan memproduksi sendal jepit yang terinspirasi dari pelindung kokpit tersebut, dan dinamai 'edisi Halo'.

Untuk seluruh keuntungan penjualan sandal jepit Gandys edisi Halo ini akan disumbangkan ke yayasan amal Orphans For Orphans, di Sri Lanka.

"Penempatan logo pada Halo adalah tidak hanya sempurna dari sisi branding, tetapi juga kesempatan baik menunjukkan komitmen Gandys untuk menyediakan lingkungan bebas resiko," jelas John Allert, Chief Marketing McLaren.

Selain itu, dengan kerja sama antara McLaren dan Gandy merupakan langkah yang sangat berarti. "Dengan memberikan 100 persen keuntungan pada yayasan, McLaren juga ikut memberikan sumbangsih pada niat baik tersebut.

Thursday, 1 March 2018

Lebih Nyaman Di Qatar, Rossi Akui Tak Cukup Cepat
Otosia.com - Usai tampil cukup terpuruk di Sirkuit Buriram, Thailand, kini Valentino Rossi bisa bernapas cukup lega dalam menjalani uji coba pramusim MotoGP Qatar di Sirkuit Losail. Pada hari pertama, Kamis (1/3) malam, ia menduduki posisi ketujuh dan hanya tertinggal 0,379 detik dari Maverick Vinales di puncak.



Daftar catatan waktu pada hari pertama menunjukkan betapa sengitnya persaingan MotoGP musim ini. Terhitung 16 rider pertama dipisahkan margin tak sampai satu detik. Meski begitu, Rossi mengaku bahwa ia mulai lebih nyaman mengendarai YZR-M1 seperti saat di uji coba Sepang, Malaysia.


"Hari pertama cukup baik. Kami semua selalu sangat berdekatan. Pada akhirnya saya duduk di posisi keenam (ketujuh), jadi ini bukan hal fantastis. Tapi di lintasan ini saya merasa lebih nyaman sejak awal dibanding saat di Thailand," ujar The Doctor kepada Crash.net.


"Saya rasa saya cukup kompetitif di Sepang, sedikit bermasalah di Thailand, sementara di Qatar untungnya cukup mirip dengan Sepang. Tapi tampaknya tahun ini situasi bisa berubah-ubah di setiap sirkuit, karena semua sangat tergantung cara Anda membuat ban bekerja dengan baik," lanjutnya.


Meski begitu, rider Italia berusia 39 tahun ini tak mau terlena atas performanya di Qatar, menegaskan bahwa elektronik masih menjadi salah satu masalah utama Yamaha.


"Musim ini kadang Anda harus kesulitan, di lain waktu mungkin Anda bisa tampil lebih kuat. Kesan pertama kami di Qatar tidak terlalu buruk, tapi kami tetap harus bekerja keras mencari keseimbangan motor dan elektronik, karena kami masih tak cukup cepat," pungkasnya.